Semalam aku meluangkan telephone mbak Ginuk2 Uhui ( memang namanya demikian,bener deh ) tapi yang ngangkat suaminya Mas Priyo nama aslinya, katanya mbak GGU capek habis kuliah seharian. Aku utarakan niatku, kalo aku ada baju bekas sekitar 2 koper besar yang akan aku sumbangkan ke Indonesia yang biasanya di coordinasi oleh ketua Australia Indonesia Assosiation yang rumahnya satu suburb sama G2U dan Mas Priyo itu,jadi aku ingin stop by dirumahnya barang beberapa menit saja.
Mbak Ginuk2 Uhui hampir menyelesaikan belajarnya bulan Juni 08, pulang bawa gelar Master dan nganggur. Mas Priyo disini sebagai dependant, menemani istri belajar. Ternyata 3 tahun lalu Mas Priyo belajar di England mbak Ginuk2 sebagai dependant so, mereka meraih MBA di negara berbeda dan menuggu pulang ke Indonesia sebagai pengangguran.
“So, kalian pulang kampoeng 3 bulan lagi, udah ada channel yang kasih kerja” ? tanyaku.
“Belum Thuk ( panggilan yang dibuatnya untukku, yang artinya Gethuk yang asalnya dari Telo juga ), mulai dari bawah lagi”, jawab Mas Priyo tidak bergairah karena di usianya yang di atas 40 tahun memulai hidup dari bawah lagi. Sebagai peneliti di Indonesia tidaklah mudah mendapat tempat dan bergaji cukup. Dan istrinya pernah bekerja disalah satu LSM lingkungan Hidup di Jakarta,punya problem yang sama, cari kerja dari bawah lagi. Selama menemani istrinya belajar di Australia,mas Priyo ini bekerja sebagai pemotong daging,yang kerja dari jam 5 pagi sampai jam 4 sore. Kerja yang membutuhkan tenaga extra kuat,pakai otot dan kerja yang monoton.Setiap pulang kerja tangannya pegel linu.
“Realitanya memang begitu, sebagai warga pendatang, mau kamu lulusan Phd,MBA atau malah yang sudah Profesor aja kerjanya kebanyakan yang gak mujur ya kerja kasar,kalo gak tukang potong daging,metik buah dan cleaner. Tentunya mereka ingin kerja sesuai profesi yang dia pilih sesuai dengan pendidikan yang telah mereka dapat, but..the world doesn’t work as you want” Mas Priyo nerocos mengungkapkan kekecewaan mengenai kenyataan yang dia hadapi.Sebenarnya aku menemui banyak mas Priyo2 lainnya bernasib sama. Ada seorang profesor dari China yang kerjanya jadi tukang masak di Thai Restoran.
” Bukannya harus di syukuri mas, sekolah di bayarin, pulang bawa titel kebanggan MBA yang bisa di pamerkan ke Masyarakat Indonesia yang menghormati title dari pada kerja keras seseorang”? tanyaku nyinyir menyindir as always.
” You right, Thuk,omonganmu selalu Mak nyuuus bikin aku kaya badut terus di matamu”jawabnya kesel.
”Solly…sollly…mas’, jawabku gak bisa nahan cengengesan.
‘Tapi Mas lihatlah sekelilingmu, para pelajar yang high educated itu, mereka kan bangga dengan title nya dan gaya bicaranya sungguh kaya pemenang Nobel,cuma bedanya pelajar kita ngomongnya pandai sulit terbantahkan tapi gak pernah menemukan apa-apa kecuali menemukan masalah, tapi bukan solusinya’. Lanjutku ketawa ngakak kurang ajar.
“Kayak kamu itu ”? jawabnya menyindir.
“Lha aku kan gak punya MBA, mas..lulusan SD impress makanya ngomongnya gak nyambung’, kataku yang kehilangan rasa percaya diri.
“Barusan aku kasih solusi kan,bukan masalah “?sambungku lagi sambil cengengesan.
”Solusi dengkulmu atos’, katanya tambah kesel.
“Solusi supaya kamu tambah kesel sama aku’,jawabku sekenannya.
“Well, well, well…nothing easy, doesn’t it? tanyaku yang berbicara sok kebarat-baratan padahal cuma kebingungan mau jawab apa.
”Yo wis mau mampir jam berapa,? mau dimasakin apa? entar aku bilang ke bini gue”.
Akhirnya kita sepakat mengakhiri percakapan tanpa sengaja itu karena udah larut malam dan gak berbobot pula.
Plus pesan mas Priyo untuk tidak panggil bininya Ginuk-Ginuk Uhui…,panggil mba Eva nama aslinya.
Okay deh pak Ginuk-Ginuk Uhui.